Pertunjukan Gendang Tungkat oleh Sanggar Seni Nggara Simbelin
DOI:
https://doi.org/10.55927/ijads.v1i1.1100Keywords:
gendang tungkat, tungkat tunggal penalun, tungkat malekatAbstract
Gendang tungkat adalah gendang Raja pada zaman kerajaan Lingga, Dahulunya Raja tidak terlepas dari guru yang sebagai penasehat Raja Lingga. Pada waktu itu jika ada kejadian sesuatu yang tidak baik masyarakat Karo di Lingga maka di panggillah guru untuk melakukan gendang sesuai dengan kebutuhan Raja. Akan tetapi pada sekarang ini tari tungkat tersebut sudah tidak dilakukan oleh masyarakat Karo lagi, namun sanggar seni nggara simbelin di desa budaya Lingga mempertunjukan tari tungkat dan musik pengiring nya pada kegiatan kebudayaan di masyarakat karo. Penelitian ini akan difokuskan kepada bagaimana deskripsi gerak tari gendang tungkat serta musik yang mengiringi tari gendang tungkat tersebut. Penulis mengacu kepada teori Milton Siger (MSPI, 1996:164-165) yang menjelaskan bahwa pertunjukan selalu memiliki: waktu pertunjukan yang terbatas, awal dan akhir, acara kegiatan yang terorganisir, sekelompok pemain, sekelompok penonton, tempat pertunjukan dan, kesempatan untuk mempertunjukkannya. Sementara itu, untuk mengkaji aspek musik iringan tari gendang tungkat, penulis akan menggunakan teori Bruno Netll (1964 : 131) mengatakan bahwa untuk mendapatkan seluruh benda musikal dilakukan analisis: perbendaharaan nada, modus, ritem, nada dasar, bentuk, dan tempo. Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dibantu oleh data-data responden yang bersifat kuantitatif, yang diperoleh daripenelitian lapangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana struktur tari gendang tungkat dan memahami bagaimana struktur musik tari gendang tungkat yang di sajikan oleh sanggar seni nggara simbelin di desa budaya Lingga. Hasil penelitian, sanggar seni nggara simbelin adalah salah satu sanggar yang paling eksis dalam kegiatan kebudayaan di masyarakat karo. tari tungkat dipertunjukan oleh sanggar seni nggara simbelin adalah penari berjumlah 3 orang laki-laki, 2 dari penari menggunakan baju berwarna merah dan 1 memakai baju warna putih yang sebagai guru besar yang dipercayai dulunya mempunyai pustaka najati, dan diiringi musik ensambel gendang telu sedalanen dimana balobat sebagai pembawa melodi.
Downloads
References
Bangun, Roberto. 2006. Mengenal Suku Karo. Jakarta: Yayasan Merga Silima
Bangun, Tridah. 1990. Adat Istiadat Karo. Bandung: Yayasan Merga Silima
Koenjaraningrat. 1985. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia
Koenjaraningrat. 1986. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Gramedia
Marpaung, Yenni Alexandra. 2014.Deskripsi Struktur Tatak Nantampuk Mas dan Musik Iringan Yang di Pertunjukan Oleh Sanggar Nina Nola di Desa
Prins, Darwan. 2002. Kamus Karo Indonesia. Medan: Bina Media
Soedarsono. 1986. Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari. Jakarta: Direktorat Kesenian
Yulyati, Reny. 2003. Hubungan Struktur Tari, Musik Iringan, dan Fungsi tari alombang yang Dipertunjukan Sanggar Tigo apilin pada Upacara Adat Perkawinan syarakat Minangkabau di Kota Medan. Medan: Departemen Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2022 Yogi Anggara Sipayung, Kumalo Tarigan, Rithaony Hutajulu

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

























